Tags

,


oleh Watni Marpaung *

waspada.co.id – Dalam sejarah peradaban manusia belum pernah terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan melebihi Isra’ Mi’raj yang dialami Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut tidak saja menggoncangkan dunia Arab pada saat itu, tetapi di belahan manapun dengan kapasitas teknologi tidak secanggih dewasa ini, tentu sulit untuk dapat mempercayai kejadian besar itu. Pada konteks inilah sebenarnya umat Islam harus mampu menangkap pesan-pesan Isra’ Mi’raj tersebut. Namun cukup disayangkan, pemaparan Isra’ Mi’raj yang selalu disampaikan para penceramah terbatas deskriptif saja dan tidak memberikan perubahan yang berarti bagi umat Islam yang memperingatinya. Oleh sebab itu, tulisan ini mencoba untuk menawarkan kontekstualisasi pemahaman terhadap Isra’ Mi’raj sehingga dapat diteladani umat secara universal. Jadi, tidak terjebak pada acara-acara seremonial, tetapi masuk pada hal yang lebih substansial.

Isra’ Mi’raj Dalam Sejarah

Isra’ Mi’raj merupakan dua kata yang disematkan pada peristiwa perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha dalam waktu relatif singkat. Perjalanan beliau dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsa pada disebut dengan Isra’. Selanjutnya perjalanan dari Masjid al-Aqsa ke Sidratul Muntaha disebut dengan Mi’raj. Dalam perjalanan yang dilakukan beliau ternyata banyak sekali pengalaman yang didapatkan untuk selanjutnya disampaikan kepada umat. Pada saat Isra’ beliau mengalami berbagai macam peristiwa di antaranya, ada orang yang memotong lidahnya lalu kembali seperti semula, ada yang memanen padi, tetapi tumbuh lagi, dan banyak lagi peristiwa lain yang sulit dan heran bagi Rasul. Tetapi pada hakikatnya bahwa serangkaian pemandangan yang diperlihatkan kepada Rasul merupakan ganjaran terhadap orang yang berbuat baik dan berbuat jelek pada saat di dunia. Sementara itu, pada saat beliau turun dari Sidratul Muntaha dengan membawa perintah shalat wajib yang pada awalnya sebanyak 50 kali sehari semalam. Tetapi, pada akhirnya perintah shalat hanya tersisa 5 kali sehari semalam setelah bertemu dengan nabi-nabi senior yang memberikan nasehat kepada beliau untuk mengurangi kewajiban tersebut.

Setelah beliau kembali ke bumi dan menyampaikan pengalaman spiritualnya selama Isra’ Mi’raj. Tetapi dakwah yang disampaikan mendapatkan sambutan yang tidak menguntungkan bagi Rasul, bahkan sebaliknya membawa musibah besar bagi diri Rasul dan kaum muslimin. Tidak menguntungkan bagi Rasul dan kaum muslimin bahwa diharapkan dengan peristiwa itu memberikan stimulus kepada kafir Quraisy untuk masuk ke dalam Islam, namun ternyata tidak benar, bahkan yang telah fatal umat Islam banyak yang murtad. Secara sederhana kita akan berfikir bahwa kaburnya keyakinan kaum muslimin dengan peristiwa itu merupakan hal yang wajar melihat sulitnya untuk mengakui perjalanan yang dialami Rasulullah Saw. Hanya Abu Bakar saja yanga membenarkan berita yang disampaikan Rasul kepada masyarakat Arab. Begitu tragisnya perkiraan masyarakat Arab sampai Abu Jahal mendorong Rasul pada saat berpidato menyampaikan perjalanan spiritualnya tersebut.

Kontekstualisai Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj merupakan suatu peristiwa yang sangat menakjubkan, perjalanan yang melewati batas kemampuan akal pikiran manusia untuk dapat mencernanya. Hingga detik ini Isra’ Mi’raj tetap sebagai sesuatu peristiwa yang misterius yang perlu dikaji lebih mendalam untuk mendapatkan kearifan-kearifannya. Bagi penulis, secara historis tidak dapat didustakan bahwa Isra’ Mi’raj peristiwa yang luar biasa, namun perlu ditegaskan secara substansial pada hakikatnya kita juga dapat melakukannya. Alasannya adalah bahwa Rasulullah Isra’ Mi’raj bukan suatu peristiwa yang terlepas dari latarbelakang, sebab dan tujuan tertentu. Dalam berbagai literatur sejarah dijelaskan bahwa pada saat Isra’ Mi’raj terjadi disebut dengan am al-huzni atau tahun kesedihan yang ditandai dengan meninggalnya dua pembela setia Rasul yaitu isterinya Khadizah dan pamannya Abu Talib. Atas musibah ini beliau bersedih dan hampir putus asa melihat pembangkangan kafir Quraisy yang semakin keras, di tambah lagi meninggal dua orang pembelanya.

Melihat kondisi yang dialami beliau maka Allah mengisra’kannya dengan berbagai pemandangan yang mempunyai makna sebagai renungan yang bermakna bagi semangat perjuangan beliau. Dengan demikian, seharusnya umat Islam dapat menangkap substansi Isra’ Mi’raj dan mengamalkannya dalam hidup. Mengapa demikian? Karena kita semua hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari berbagai persoalan kehidupan yang serba sulit maupun mudah. Bahkan, tidak sedikit orang menjadi strees disebabkan masalah-masalah yang selalu saja bertambah dan harus dicarikan jalan keluarnya.Dalam kondisi sekarang, kebutuhan hidup yang serba tinggi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan tanpa dibarengi keimanan rasanya akan berpeluang besar umat ini masuk kepada wilayah yang dilarang Allah.Apabila kondisi demikian sudah terjadi, pada hakikatnya kita dapat saja melakukan Isra’ dengan mengadakan perjalanan wisata spiritual.

Setidaknya, cara yang dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat yang sifatnya menggugah keimanan dan ketakwaan, seperti tadabbur alam, tempat bersejarah, atau bahkan tempat-tempat wisata, yang kita dapat menangkap dan menerjemahkannya untuk mengokohkan dan memperkuat keimanan. Dengan kata lain, perjalanan yang diperuntukkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw adalah bentuk wisata spritual dalam rangka meneguhkan pendirian dan keistiqomahan serta kesabaran beliau dalam menghadapi berbagai tantangan dan kecaman kafir Quraisy pada saat itu. Oleh sebab itu, perlu lagi ditegaskan, bahwa kita juga dapat melakukan hal yang sama dalam makna substansinya pada saat menghadapi berbagai persoalan dengan melakukan rekreasi dan wisata spritual untuk mengokohkan keimanan dan ketakwaan sehingga lebih tegar dan siap menghadapinya.

Penutup

Isra’ Mi’raj harus dapat dipahami lebih luas dan secara substansi. Jadi tidak saja terjebak pada perjalanan Rasulullah yang misterius dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa dan selanjutnya ke Sidratul Muntaha, tetapi masuk pada wilayah tujuan esensi sehingga kita juga dapat melakukannya dalam rangka melakukan perubahan-perubahan kepada yang lebih baik.

* Penulis adalah Ketua Divisi Litbang Forum Kajian Islam dan Masyarakat (FKIM).

Referensi lainnya:

Advertisements